Begitu setianya ia, sehingga  bila  ada  orang  menyebut  nama
Khadijah, selalu menimbulkan kenangan yang indah baginya. Di
sinilah Aisyah berkata: "Saya tidak pernah iri hati terhadap
seorang wanita seperti terhadap Khadijah, bilamana saja
mendengar ia mengenangkannya." Ketika ada seorang wanita
datang ia menyambutnya begitu gembira dan ditanyainya
baik-baik. Bila wanita itu sudah pergi, ia berkata: "Ketika
masih ada Khadijah ia suka mengunjungi kami." Bahwa mengingat
hubungan baik masa lampau adalah termasuk iman. Begitu
halusnya perasaannya, begitu lembutnya hatinya, ia membiarkan
cucunya bermain-main dengan dia ketika ia sembahyang. Bahkan
ia bersembahyang dengan Umama, puteri Zainab puterinya, sambil
dibawa di atas bahunya; bila ia sujud diletakkan, bila ia
berdiri dibawanya lagi.
 
Kebaikan dan kasih-sayang yang sudah menjadi sendi
persaudaraan itu, yang dalam peradaban dunia modern sekarang
juga menjadi dasar bagi seluruh umat manusia tidak hanya
terbatas sampai di situ saja, melainkan melampaui sampai
kepada binatang juga. Dia sendiri yang bangun membukakan pintu
untuk seekor kucing yang sedang berlindung di tempat itu. Dia
sendiri yang merawat seekor ayam jantan yang sedang sakit;
kudanya dielus-elusnya dengan lengan bajunya. Bila dilihatnya
Aisyah naik seekor unta, karena menemui kesukaran lalu
binatang itu ditarik-tariknya, iapun ditegurnya: "Hendaknya
kau berlaku lemah-lembut." Kasih-sayangnya itu meliputi segala
hal, dan selalu memberi perlindungan kepada siapa saja yang
memerlukannya.
 
Tetapi ini bukan sikap kasih-sayang karena lemah atau mau
menyerah, juga bersih dari segala sifat mau menghitung jasa
atau sikap tinggi diri. Ini adalah persaudaraan dalam Tuhan
antara Muhammad dengan semua mereka yang berhubungan dengan
dia. Disinilah dasar peradaban Islam yang berbeda dengan
sebahagian besar peradaban-peradaban lain. Islam menekankan
pada keadilan disamping persaudaraan itu, dan berpendapat
bahwa tanpa adanya keadilan ini persaudaraan tidak mungkin
ada.
 
"Barangsiapa menyerang kamu, seranglah dengan yang seimbang,
seperti mereka menyerang kamu." (Qur'an, 2: 194)
 
"Dengan hukum qishash berarti kelangsungan hidup bagi kamu,
hai orang-orang yang mengerti." (Qur'an, 2: 179)
 
Sifatnya harus untuk mempertahankan jiwa semata-mata dengan
kemauan yang bebas sepenuhnya dan untuk mencari rida Tuhan
tanpa ada maksud lain. Itulah sumber persaudaraan yang
meliputi segala kebaikan dan kasih-sayang. Ini harus bersumber
juga dari jiwa yang kuat, tidak mengenal menyerah selain
kepada Allah, dan dengan ketaatan kepadaNya ia tidak pula
merasa lemah. Tak ada rasa takut akan menyelinap ke dalam
hatinya kecuali dari perbuatan maksiat atau dosa yang
dilakukannya. Dan jiwa itu tidak akan jadi kuat kalau ia masih
di bawah kekuasaan yang lain dan tidak akan jadi kuat kalau ia
masih di bawah kekuasaan hawa-nafsunya. Muhammad dan
sahabat-sahabatnya telah hijrah dari Mekah supaya jangan
berada di bawah kekuasaan Quraisy dan jangan ada jiwa mereka
yang akan jadi lemah karenanya. Jiwa itu akan menyerah kepada
kekuasaan hawa-nafsu kalau sudah jasmani yang dapat berkuasa
kedalam rohani dan akal pikiran dapat dikalahkan oleh kehendak
nafsu. Dan akhirnya kehidupan materi ini juga yang dapat
menguasai hidup kita, padahal kita sudah tidak memerlukan yang
demikian, sebab ini memang sudah berada di bawah kekuasaan
kita.
 
Di sini Muhammad adalah contoh kekuatan jiwa yang ideal sekali
atas kehidupan ini, suatu kekuatan yang membuat dia sudah
tidak peduli lagi akan memberikan segala yang ada padanya
kepada orang lain. Itu sebabnya sampai ada orang yang
mengatakan: Dalam memberi Muhammad sudah tidak takut
kekurangan. Dan supaya jangan ada sesuatu dalam hidup ini yang
dapat menguasainya, sebaliknya dia yang harus menguasai, maka
ia keras sekali menahan diri dalam arti hidup materi, sama
kerasnya dengan keinginannya hendak mengetahui segala rahasia
yang ada dalam hidup materi itu, ingin mengetahui hakekat
sesungguhnya tentang semua itu. Begitu jauhnya ia menahan diri
sehingga lapik tempat dia tidur hanya terdiri dari kulit yang
diisi dengan serat. Makannya tak pernah kenyang. Tak pernah ia
makan roti dari tepung sya'ir6 dua hari berturut-turut.
Sebagian besar makannya adalah bubur.7 Pada hari-hari yang
lain ia makan kurma. Jarang sekali ia dan keluarganya dapat
makanan roti sop.8 Bukan sekali saja ia harus menahan lapar.
Sudah pernah perutnya diganjal dengan batu untuk menahan
teriakan rongga pencernaannya itu.
 
Itulah yang sudah biasa dikenal tentang makannya, meskipun ini
tidak berarti ia pantang sekali-sekali makan makanan yang
enak-enak. Juga ia dikenal suka sekali makan kaki anak
kambing, labu, madu dan manisan.
 
Begitu juga kesederhanaannya dalam hal pakaian sama seperti
dalam makanan. Suatu hari ada seorang wanita memberikan
sehelai pakaian kepadanya yang memang diperlukan. Tetapi
kemudian diminta oleh orang lain yang juga memerlukannya guna
mengkafani mayat. Pakaian itu diberikannya. Pakaiannya yang
dikenal terdiri dari sebuah baju dalam dan baju luar, yang
terbuat dari wol, katun atau sebangsa serat. Tetapi
sekali-sekali ia tidak menolak memakai pakaian dari tenunan
Yaman sebagai pakaian yang mewah sesuai dengan acara bila
memang menghendaki demikian. Juga alas kaki yang dipakainya
sederhana sekali. Tak pernah ia memakai sepatu selain waktu
mendapat hadiah dari Najasyi berupa sepasang sepatu dan
seluar.
 
Sungguhpun begitu dalam hal menahan diri dan menjauhi masalah
duniawi bukanlah berarti ia hidup menyiksa diri. Cara ini juga
tidak sesuai dengan ajaran agama. Dalam Qur'an dapat dibaca:
 
"Makanlah dari makanan yang baik yang sudah Kami berikan
kepadamu." (Qur'an, 2: 57)
 
"Dan tempuhlah kebahagiaan akhirat seperti yang dianugerahkan
Allah kepadamu, tapi juga jangan kaulupakan kebahagiaan hidup
duniawi. Dan berbuatlah kebaikan kepada orang lain seperti
Allah telah berbuat baik kepadamu." (Qur'an, 28: 77)
 
Dan dalam hadis: "Berbuatlah untuk duniamu seolah-olah kau
akan hidup selama-lamanya, dan berbuat pula untuk akhiratmu
seolah-olah kau akan mati besok."
 
Akan tetapi Muhammad ingin memberikan teladan yang begitu
tinggi kepada manusia tentang arti kekuatan dalam menghadapi
hidup itu, suatu kekuatan yang tak dapat dipengaruhi oleh
perasaan lemah, tak dapat diperbudak oleh kekayaan, oleh
harta-benda, oleh kekuasaan atau oleh apa saja yang akan
menguasainya, selain Allah. Persaudaraan yang didasarkan
kepada kekuatan, yang manifestasinya telah diberikan oleh
Muhammad sebagai teladan tertinggi seperti yang sudah kita
lihat itu, adalah persaudaraan murni yang sungguh ikhlas dan
mulia, suatu persaudaraan yang bersih samasekali. Sebabnya
ialah karena adanya rasa keadilan yang terjalin dalam
kasih-sayang dan karena yang bersangkutan hanya didorong oleh
kemauan sendiri yang bebas mutlak. Tetapi, oleh karena Islam
menyertakan rasa keadilan disamping rasa kasih-sayang itu,
maka ia juga menyertakan maaf disamping keadilan itu, maaf
yang dapat diberikan bila mampu. Rasa kasih-sayang demikian
itu hendaklah dengan hati terbuka dan benar-benar, dan
hendaklah dengan tujuan mau mencapai perbaikan yang
sungguh-sungguh.
 
Inilah dasar yang telah diletakkan oleh Muhammad dalam
membangun peradaban baru itu, yang dengan jelas tersimpul
dalam cerita yang diambil dari Ali bin Abi Talib ketika ia
bertanya kepada Rasulullah tentang sunahnya, dengan dijawab:
"Ma'rifat adalah modalku, akal-pikiran sumber agamaku, cinta
adalah dasar hidupku, rindu kendaraanku, berzikir kepada Allah
adalah kawan dekatku, keteguhan perbendaharaanku, duka adalah
kawanku, ilmu adalah senjataku, ketabahan adalah pakaianku,
kerelaan sasaranku, faqr adalah kebanggaanku, menahan diri
adalah pekerjaanku, keyakinan makananku, kejujuran
perantaraku, ketaatan adalah ukuranku, berjihad perangaiku dan
hiburanku adalah dalam sembahyang."

Ajaran-ajaran Muhammad serta teladan dan bimbingan yang
diberikannya telah meninggalkan pengaruh yang dalam sekali
kedalam jiwa orang, sehingga tidak sedikit orang yang
berdatangan menyatakan masuk Islam, dan kaum Musliminpun makin
bertambah kuat di Medinah. Ketika itulah orang-orang Yahudi
mulai memikirkan kembali posisi mereka terhadap Muhammad dan
sahabat-sahabatnya. Mereka dengan dia telah mengadakan
perjanjian. Mereka bermaksud ingin merangkulnya ke pihak
mereka dan supaya ketahanan mereka bertambah kuat terhadap
orang-orang Kristen. Dan dia lebih kuat dari mereka itu semua,
ajarannya bertambah kuat. Malah sekarang ia memikirkan
orang-orang Quraisy yang telah mengusirnya dan mengusir kaum
Muhajirin dari Mekah serta godaan mereka terhadap kaum
Muslimin yang dapat mereka goda dari agamanya. Adakah
orang-orang Yahudi itu akan membiarkan dakwahnya terus
tersebar dan kekuasaan rohaninya makin meluas, dengan cukup
puas berada disampingnya dalam aman sentosa yang berarti akan
menarnbah keuntungan dan kekayaan dalam perdagangan mereka?
Barangkali memang akan begitu kalau mereka yakin bahwa
dakwahnya itu tidak akan sampai kepada orang-orang Yahudi
sendiri dan tidak akan sampai meluas kepada orang-orang awam,
sedang ajaran mereka yang berlaku ialah tidak akan mengakui
adanya seorang nabi yang bukan dari Keluarga Israil.
 
Akan tetapi ada seorang rabbi yang cerdik-pandai, yaitu
Abdullah b. Sallam yang telah berhubungan dengan Nabi iapun
lalu memeluk Islam; dan dianjurkannya pula keluarganya. Lalu
merekapun bersama-sama memeluk agama Islam.
 
Tetapi Abdullah bin Sallam masih merasa kuatir akan ada
kata-kata yang tidak biasa yang akan dilontarkan orang-orang
Yahudi jika mereka mengetahui ia sudah menganut Islam. Maka
dimintanya kepada Nabi untuk menanyai mereka tentang dirinya
itu sebelum mereka mengetahui bahwa dia sudah Islam. Ternyata
mereka berkata: dia pemimpin kami, pendeta kami dan orang
cerdik-pandai kami. Setelah Abdullah berhadapan dengan mereka
dan sekarang jelas sudah sikapnya, bahkan mengajak mereka
menganut ajaran Islam, merekapun merasa kuatir akan nasibnya
itu nanti. Maka di seluruh perkampungan Yahudi itu iapun mulai
difitnah dan diumpat dengan kata-kata yang tak senonoh. Dalam
hal ini mereka lalu sepakat akan berkomplot terhadap Muhammad
menolak kenabiannya. Secepat itu pula sisa-sisa orang yang
masih musyrik dari kalangan Aus dan Khazraj serta mereka yang
pura-pura masuk Islam segera menggabungkan diri dengan mereka,
baik karena mau mengejar keuntungan materi atau karena mau
menyenangkan golongannya atau pihak yang berpengaruh
 
Sekarang mulai terjadi suatu perang polemik antara Muhammad
dengan orang-orang Yahudi, yang ternyata lebih bengis dan
lebih licik daripada perang polemik yang dulu pernah terjadi
antara dia dengan orang-orang Quraisy di Mekah. Dalam perang
yang terjadi di Yathrib ini semua orang Yahudi berdiri dalam
satu barisan menyerang Muhammad dan risalahnya, menyerang
sahabat-sahabatnya, kaum Muhajirin dan Anshar, dengan
mengadakan intrik-intrik, tindakan bermuka-muka dengan ilmu
yang ada pada mereka tentang sejarah dan peristiwa-peristiwa
masa lampau mengenai para nabi dan rasul-rasul.
 
Mereka mengadakan intrik melalui pendeta-pendeta mereka yang
pura-pura Islam dan yang dapat bergaul ke tengah-tengah kaum
Muslimin dengan pura-pura sangat takwa sekali, yang kemudian
lalu sekali-kali memperlihatkan kesangsian dan keraguannya.
Mereka itu memajukan pertanyaan-pertanyaan kepada Muhammad ,
yang mereka kira akan dapat menggoncangkan iman umat Islam
kepadanya dan kepada ajaran kebenaran yang dibawanya itu.
Kemudian orang-orang Aus dan Khazraj yang juga Islamnya
pura-pura, menggabungkan diri dengan orang-orang Yahudi dalam
memajukan pertanyaan-pertanyaan dan dalam menimbulkan
perselisihan di kalangan kaum Muslimin. Begitu keras kepala
mereka itu sampai ada diantara orang Yahudi sendiri yang
mengingkari isi Taurat - padahal mereka percaya kepada Allah,
baik kalangan Keluarga Israil maupun orang-orang musyrik yang
mempergunakan berhala-berhala untuk mendekatkan diri mereka
kepada Tuhan. Misalnya mereka bertanya kepada Muhammad: Kalau
Allah itu sudah menciptakan makhluk ini, lalu siapa yang
menciptakan Allah? Muhammad hanya menjawab mereka dengan
firman Tuhan:
 
"Katakan: Allah Satu cuma. Allah itu Abadi dan Mutlak. Tidak
beranak. Dan tidak pula diperanakkan. Dan tiada satu apapun
yang menyerupaiNya." (Qur'an, 112: 1-4)
 
Pihak Muslimin sekarang menyadari keadaan musuh mereka, sudah
mengetahui tujuan usaha mereka itu. Ada terlihat pada suatu
hari mereka dalam mesjid sedang berbicara antara sesama mereka
dengan berbisik-bisik. Muhammad meminta supaya mereka
dikeluarkan dari dalam mesjid itu dengan paksa. Tetapi ini
tidak membuat mereka jera melakukan tipu-muslihat dan masih
terus berusaha hendak menjerumuskan kaum Muslimin. Ketika ada
beberapa orang dari golongan Aus dan Khazraj sedang
duduk-duduk bersama-sama salah seorang dari mereka [Syas b.
Qais] lewat. Ia jadi panas hati melihat dua puak ini menjadi
rukun. Dalam hatinya ia berkata: masyarakat Banu Qaila di
negeri ini sudah bersatu. Kita takkan berarti apa-apa kalau
pemuka-pemuka mereka sudah sepakat. Seorang pemuda Yahudi yang
pernah dengan mereka dulu dimintanya supaya mengambil
kesempatan ini dengan menyebut-nyebut kembali peristiwa Bu'ath
dahulu serta bagaimana pula pihak Aus dapat mengalahkan
Khazraj. Pemuda itu pun lalu bicara. Ternyata hal ini memang
menimbulkan ingatan masa lampau pada kedua puak itu. Mereka
lalu bersitegang, saling membanggakan diri dan hanyut dalam
pertengkaran. "Kalau kamu mau kita boleh kembali seperti
dulu," kata mereka satu sama lain.
 
Peristiwa ini sampai juga kepada Muhammad. Ia pergi menemui
mereka dengan beberapa orang sahabat, dan diingatkannya
mereka, bahwa Islam telah mempersatukan dan membuat mereka
benar-benar bersaudara, saling mencintai. Sementara ia masih
di tengah-tengah mereka, merekapun menangis, mereka saling
berpeluk-pelukan. Mereka semua berdoa bermohon ampun kepada
Tuhan.
 
Polemik antara Muhammad dengan orang-orang Yahudi itu sudah
sampai dipuncaknya, sebagaimana oleh Qur'an sudah pula
diperlihatkan. Pada permulaan Surah al-Baqara (2) sampai
dengan ayat 81, dan sebahagan besar Surah an-Nisa' (4) semua
menyebutkan tentang orang-orang Ahli Kitab itu dan betapa
mereka mengingkari isi-Kitab Suci mereka sendiri. Mereka telah
mendapat kutukan keras karena pembangkangan dan pengingkaran
mereka itu:
 
"Dan sesungguhnyalah Kami telah mendatangkan Al-Kitab (Taurat)
kepada Musa, dan sesudah itu lalu Kami susul pula dengan para
rasul, dan Kami telah memberikan bukti-bukti kebenaran kepada
Isa anak Maryam dan Kami perkuat dia dengan Ruh Suci. Adakah
setiap datang seorang rasul kepadamu membawa sesuatu yang tak
sesuai dengan kehendak hatimu, lalu kamu bersikap sonmbong?
Sebagian kamu dustakan dan yang sebagian lagi kamu bunuh? Dan
mereka berkata: 'hati kami sudah tertutup.' Tetapi Tuhan telah
mengutuk mereka karena keingkaran mereka juga. Karena itu,
sedikit sekali mereka yang beriman. Dan setelah kepada mereka
didatangkan Kitab dari Allah, yang membenarkan apa yang ada
pada mereka, karena sebelum itu mereka minta didatangkan
kemenangan terhadap orang-orang yang masih ingkar, maka
setelah yang mereka ketahui itu berada di tengah-tengah
mereka, merekapun juga tidak mempercayainya. Karena itu,
kutukan Allah menimpa oranz-orang yang ingkar itu." (Qur'an,
2: 87-89)
 
Begitu memuncaknya polemik antara orang-orang Yahudi dan kaum
Muslimin itu, sehingga acapkali - sekalipun sudah ada
perjanjian antara mereka - permusuhan itu terjadi sampai
dengan main tangan. Sebagai contoh - sekedar sebagai ukuran -
kita sudah mengenal Abu Bakr, yang begitu lemah-lembut
perangainya, dengan kesabarannya yang luarbiasa. Ketika itu ia
sedang bicara dengan seorang orang Yahudi yang bernama
Finhash, yang diajaknya menganut Islam. Tetapi Finhash
menjawab: "Abu Bakr, bukan kita yang membutuhkan Tuhan, tapi
Dia yang butuh kepada kita. Bukan kita yang meminta-minta
kepadaNya, tetapi Dia yang meminta-minta kepada kita. Kita
tidak memerlukanNya, tapi Dia yang memerlukan kita. Kalau Dia
kaya, tentu Ia tidak akan minta dipinjami harta kita, seperti
yang didakwakan oleh pemimpinmu itu. Ia melarang kalian
menjalankan riba, tapi kita akan diberi jasa. Kalau Ia kaya,
tentu Ia tidak akan menjalankan ini."
 
Maksud Finhash ini ditujukan kepada firman Tuhan:
 
"Siapa yang mau meminjamkan kepada Allah suatu pinjaman yang
baik, Allah akan selalu membalasnya dengan berlipat ganda."
(Qur'an, 2: 145)
 
Tetapi dalam hal ini Abu Bakr tidak tahan mendengar jawaban
itu. Ia marah. Ditamparnya muka Finhash itu keras-keras.
 
"Demi Allah," kata Abu Bakr, "kalau tidak karena adanya
perjanjian antara kami dengan kamu sekalian, pasti kupukul
kepalamu. Engkaulah musuh Tuhan."
 
Kemudian Finhash mengadukan peristiwa ini kepada Nabi, tapi
apa yang dikatakannya tentang Tuhan kepada Abu Bakr tidak
diakuinya. Dalam hal ini firman Tuhan menyebutkan:
 
"Tuhan sudah mendengar kata-kata mereka yang menyebutkan:
Tuhan itu miskin, dan kamilah yang kaya. Akan Kami tuliskan
kata-kata mereka itu, begitu juga perbuatan mereka membunuh
nabi-nabi dengan tidak sepantasnya, dan rasakanlah siksa yang
membakar ini!" (Qur'an, 3: 181)
 
Tidak cukup dengan maksud mau menimbulkan insiden antara
Muhajirin dengan Anshar dan antara Aus dengan Khazraj dan
tidak pula cukup dengan membujuk kaum Muslimin supaya
meninggalkan agamanya dan kembali menjadi syirik tanpa
mencoba-coba mengajak mereka menganut agama Yahudi, bahkan
lebih dari itu orang Yahudi itu kini berusaha memperdaya
Muhammad sendiri. Pendekar-pendekar mereka, pemuka-pemuka dan
pemimpin-pemimpin mereka datang menemuinya dengan mengatakan:
"Tuhan sudah mengetahui keadaan kami, kedudukan kami. Kalau
kami mengikut tuan, orang-orang Yahudipun akan juga ikut dan
mereka tidak akan menentang kami. Sebenarnya antara kami
dengan beberapa kelompok golongan kami timbul permusuhan. Lalu
kami datang ini minta keputusan tuan. Berilah kami keputusan.
Kami akan ikut tuan dan percaya kepada tuan."
 
Di sinilah firman Tuhan menyebutkan:
 
"Dan hendaklah engkau memutuskan perkara diantara mereka
menurut apa yang sudah diturunkan Allah, dan jangan kauturuti
hawa-nafsu mereka. Berhati-hatilah terhadap mereka. Jangan
sampai mereka memperdayakan kau dari beberapa peraturan yang
sudah ditentukan Tuhan kepadamu. Tetapi kalau mereka
menyimpang, ketahuilah, Tuhan akan menurunkan bencana kepada
mereka karena beberapa dosa mereka sendiri juga. Sesungguhnya,
kebanyakan manusia itu adalah orang-orang fasik. Adakah yang
mereka kehendaki itu hukum jahiliah? Dan hukum siapakah yang
lebih baik daripada hukum Allah bagi mereka yang yakin?"
(Qur'an, 5: 49-50)

Orang-orang Yahudi merasa sesak napas terhadap Muhammad.
Terpikir oleh mereka akan melakukan tipu-daya terhadapnya,
akan meyakinkannya sampai ia keluar meninggalkan Medinah
seperti yang terjadi karena gangguan-gangguan Quraisy dahulu
sampai ia dan sahabat-sahabatnyapun keluar meninggalkan Mekah.
 
Lalu mereka mengatakan kepadanya, bahwa para rasul sebelum dia
semua pergi ke Bait'l-Maqdis dan memang di sana tempat tinggal
mereka. Jika dia juga memang benar-benar seorang rasul, iapun
akan berbuat seperti mereka, dan kota Medinah ini akan
dianggapnya sebagai kota perantara dalam hijrahnya dulu antara
Mekah dengan al-Masjid'l-Aqsha. Akan tetapi, apa yang sudah
mereka kemukakan kepadanya itu bagi Muhammad tidak perlu
lama-lama berpikir untuk mengetahui, bahwa mereka sedang
melakukan tipu-muslihat terhadap dirinya. Pada saat itu Tuhan
mewahyukan kepadanya, menjelang tujuhbelas bulan ia tinggal di
Medinah, untuk menghadapkan kiblatnya ke al-Masjid'l-Haram,
Rumah Ibrahim dan Ismail:
 
"Kami sebenarnya melihat wajahmu yang menengadah ke langit
itu. Akan Kami hadapkan mukamu ke arah kiblat yang kausukai.
Hadapkan mukamu ke arah al-Masjid'l-Haram. Dimana saja kau
berada hadapkanlah mukamu kearah itu." (Qur'an, 2: 142-143)
 
Orang-orang Yahudi ternyata menyesalkan kejadian itu. Sekali
lagi mereka berusaha memperdayakannya, dengan mengatakan,
bahwa mereka akan mau jadi pengikutnya kalau ia kembali ke
kiblat semula. Di sini firman Tuhan menyebutkan:
 
"Dari orang-orang yang masih bodoh akan mengatakan: Apakah
yang menyebabkan mereka berpaling dari kiblat yang dulu.
Katakanlah: Timur dan Barat itu kepunyaan Allah. DipimpinNya
siapa yang disukaiNya ke jalan yang lurus. Begitu juga Kami
jadikan kamu suatu umat pertengahan, supaya kamu menjadi saksi
kepada umat manusia, dan Rasulpun menjadi saksi kepadamu. Dan
Kami jadikan kiblat yang biasa kaupergunakan itu, hanyalah
untuk menguji siapa pula yang berbalik belakang. Dan itu
memang berat, kecuali bagi mereka yang telah mendapat pimpinan
Tuhan." (Qur'an, 2: 144)

Waktu sedang sengit-sengitnya terjadi polemik antara Muhammad
dengan orang-orang Yahudi itu, delegasi pihak Nasrani dari
Najran tiba di Medinah, terdiri dari enampuluh buah kendaraan.
Diantara mereka terdapat orang-orang terkemuka, orang-orang
yang sudah mempelajari dan menguasai seluk-beluk agama mereka.
Pada waktu itu penguasa-penguasa Rumawi yang juga menganut
agama Nasrani sudah memberikan kedudukan, memberikan bantuan
harta, memberikan bantuan tenaga serta membuatkan
gereja-gereja dan kemakmuran buat kaum Nasrani Najran itu.
Boleh jadi delegasi ini datang ke Medinah hanya karena mereka
sudah mengetahui adanya pertentangan antara Nabi dengan
orang-orang Yahudi, dengan harapan mereka akan dapat
mengobarkan pertentangan itu lebih hebat sampai menjadi
permusuhan terbuka. Dengan demikian orang-orang Nasrani yang
berada di perbatasan Syam dan Yaman dapat membebaskan diri
dari intrik-intrik Yahudi dan sikap permusuhan orang-orang
Arab.
 
Dengan datangnya delegasi ini dan polemiknya dengan Nabi serta
dibukanya kancah pertarungan theologis yang sengit antara
orang-orang Yahudi, Nasrani dan Islam maka ketiga agama Kitab
ini sekarang berkumpul. Dari pihak Yahudi, mereka memang
menolak samasekali ajaran Isa dan Muhammad, yang dasarnya
karena sikap keras kepala, seperti yang sudah kita lihat.
Mereka mendakwakan bahwa 'Uzair itu putera Allah. Sedang pihak
Nasrani, paham mereka adalah Trinitas dan menuhankan Isa.
Sebaliknya Muhammad, ia mengajak orang kepada keesaan Tuhan
dan kepada kesatuan rohani yang sudah diatur oleh alam sejak
awal yang ajali sampai pada akhir yang abadi - sejak dunia ini
berkembang sampai ke akhir zaman. Orang-orang Yahudi dan
Nasrani itu bertanya kepadanya, kepada siapa-siapa diantara
para rasul itu ia beriman. Ia menjawab:
 
"Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkanNya kepada
kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq,
Ya'qub serta anak-cucunya, dan apa yang telah diberikan kepada
Musa dan Isa serta apa yang telah diberikan Tuhan kepada
nabi-nabi. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara
mereka, dan kamipun patuh kepadaNya." (Qur'an 2: 136)
 
Ia sangat menyesalkan sikap mereka yang sifatnya hendak
menimbulkan keraguan dengan cara bagaimanapun tentang keesaan
Tuhan. Diingatkannya mereka, bahwa mereka telah mengubah
kata-kata dari aslinya dalam kitab-kitab mereka itu dan bahwa
mereka ternyata berlainan haluan dari apa yang telah ditempuh
oleh para nabi dan rasul-rasul yang sudah mereka akui
kenabiannya, dan bahwa apa yang diajarkan oleh Isa, oleh Musa
dan oleh mereka yang sudah terdahulu, sedikitpun tidak berbeda
dari apa yang diajarkannya sekarang. Apa yang telah diajarkan
mereka itu, adalah Kebenaran Abadi yang akan tampak jelas dan
sederhana sekali bagi setiap orang yang berjiwa pantang tunduk
selain kepada Tuhan Yang Mahaesa. Ia akan melihat Alam ini
sebagai suatu kesatuan yang tak terpisah-pisah. Ia akan
melihatnya dengan pandangan hati nurani yang lebih tinggi
diatas segala kehendak dan tujuan yang bersifat sementara, di
atas segala dorongan materi; lepas dari sifat tunduk buta
kepada segala ilusi dan angan-angan orang awam, kepada yang
diterimanya dari nenek-moyang mereka.

Dimanakah ada suatu pertemuan yang hakekatnya lebih besar dari
pertemuan yang kini dialami oleh Yathrib? Tiga agama bertemu
di tempat ini, yang sampai sekarang saling mempengaruhi
perkembangan dunia. Di tempat ini ketiganya bertemu untuk
suatu tujuan dan cita-cita yang tinggi dan mulia. Ini bukanlah
suatu pertemuan ekonomi, juga bukan dengan suatu tujuan
materi, yang sampai saat ini dikejar-kejar dunia namun tiada
juga berhasil - melainkan tujuannya adalah rohani semata-mata.
Dalam hal Nasrani dan Yahudi ini, dibelakangnya berdiri
ambisi-ambisi politik serta keinginan-keinginan orang-orang
beruang dan berkuasa. Sebaliknya Muhammad, tujuannya adalah
rohaniah dan perikemanusiaan semata-mata, yang jalannya telah
ditunjukkan Tuhan kepadanya dengan bentuk kata yang
dialamatkan kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani serta
seluruh umat manusia. DikatakanNya kepada mereka:
 
"Katakanlah; 'Orang-orang Ahli Kitab! Marilah kita menerima
suatu istilah yang sama antara kami dengan kamu: bahwa tak ada
yang akan kita sembah selain Allah, dan bahwa kita takkan
mempersekutukanNya dengan apapun, dan tidak pula antara kita
saling mempertuhankan satu sama lain, selain daripada Allah.'
Tetapi kalau mereka menyimpang juga, katakanlah: 'Saksikanlah,
bahwa kami ini orang-orang Muslimin.'" (Qur'an, 3: 64)
 
Apa pula yang akan dapat dikatakan oleh orang-orang Yahudi,
yang akan dapat dikatakan oleh orang-orang Nasrani atau oleh
yang lain, mengenai ajakan ini: Jangan menyembah apa dan
siapapun selain Allah, jangan mempersekutukanNya dan jangan
pula saling mempertuhankan satu sama lain selain daripada
Allah! Bagi jiwa yang benar-benar jujur, jiwa manusia yang
telah mendapat kehormatan dengan adanya akal pikiran dan
perasaan, tidak bisa lain tentu akan beriman kepada ini, tanpa
yang lain. Akan tetapi, dalam arti hidup manusia, disamping
segi rohani, juga ada segi materinya. Kelemahan ini yang
membuat kita dapat menerima pihak lain menguasai kita, dengan
jalan membeli nyawa kita, jiwa kita, kalbu kita. Ilusi ini
yang telah membunuh kehormatan, perasaan serta cahaya hati
nurani manusia. Segi materi ini, yang tergambar dalam bentuk
harta dan kekayaan, dalam kepalsuan gelar-gelar dan pangkat,
yang telah membuat Abu Haritha - salah seorang Nasrani Najran
yang paling luas ilmu dan pengetahuannya - pernah mengeluarkan
isi hatinya kepada salah seorang teman, bahwa ia yakin pada
apa yang dikatakan Muhammad itu. Setelah temannya itu
bertanya:
 
"Apa lagi yang masih merintangi kau menerima ajarannya, kalau
kau sudah mengetahui ini?"
 
"Yang masih merintangi aku ialah apa yang sudah diberikan
orang kepada kami," jawabnya. "Kami sudah diberi kedudukan,
diberi harta dan kehormatan. Dan yang mereka kehendaki supaya
kami menentangnya. Kalau kuterima ajakannya itu tentu semua
yang kaulihat ini akan dicopot dari kami."
 
Kepada ajaran inilah orang-orang Yahudi dan Nasrani itu oleh
Muhammad diajak. Orang-orang Nasrani diajaknya saling berdoa,9
sedang dengan pihak Yahudi sudah ada perjanjian perdamaian.
Dalam pada itu pihak Kristen telah pula mengadakan
permusyawaratan antara sesama mereka, yang hasilnya kemudian
diberitahukan kepadanya, bahwa mereka tidak akan saling berdoa
dan akan membiarkannya ia dengan agamanya itu dan mereka
kembali kepada agama mereka. Tetapi mereka juga melihat,
betapa cenderungnya Muhammad menjalankan keadilan itu, yang
juga diikuti jejaknya oleh sahabat-sahabatnya. Oleh karena itu
mereka minta supaya ada seorang yang dapat dikirimkan
bersama-sama mereka guna mengadili masalah-masalah yang bagi
mereka sendiri masih merupakan perselisihan pendapat. Dalam
hal ini Muhammad mengutus Abu 'Ubaida ibn'l-Jarrah guna
memutuskan hal-hal yang diperselisihkan itu.

Peradaban yang batu pertamanya telah diletakkan oleh Muhammad
dengan ajaran-ajaran serta teladan yang diberikannya itu, kini
sudah makin diperkuat lagi. Terpikir olehnya sekarang dan oleh
sahabat-sahabatnya dari kalangan Muhajirin, bagaimana
seharusnya sikap, dan keadaan mereka menghadapi Quraisy itu
suatu pemikiran yang tak pernah mereka lupakan sejak mereka
hijrah dari Mekah. Motif yang mendorong mereka berpikir
demikian banyak sekali. Di Mekah ini terletak Ka'bah, Rumah
Ibrahim, tempat mereka dan semua orang Arab berziarah.
Dapatkah mereka melepaskan diri dari kewajiban suci yang sejak
dulu mereka jalankan sampai pada waktu mereka dikeluarkan dari
Mekah? Disana masih tinggal keluarga mereka yang mereka cintai
dan yang mereka sayangkan bila masih tetap dalam kehidupan
syirik. Di sana harta-benda dan perdagangan mereka
ditinggalkan, yang telah disita oleh Quraisy tatkala mereka
hijrah. Kemudian lagi, tatkala mereka memasuki Medinah, mereka
diserang penyakit demam, sehingga bukan main penderitaan yang
mereka alami. Mereka sembahyangpun sambil duduk. Makin keras
mereka merindukan Mekah. Mereka telah dikeluarkan secara paksa
dari Mekah, seolah mereka keluar sebagai pihak yang
dikalahkan. Dan tidak pula menjadi adat orang-orang Quraisy
dapat bersabar terhadap ketidakadilan serupa itu atau menyerah
tanpa mengadakan pembalasan. Disamping semua dorongan itu,
dorongan naluri juga merangsang mereka, yakni nostalgia -
rindu kampung halaman, kampung halaman tempat mereka
dilahirkan, tempat mereka dibesarkan. Dengan bumi ini, dengan
tanahnya yang lapang, gunungnya, airnya, dengan semua itulah
pertama kali mereka bicara, pertama kali mereka bersahabat.
Diatas secercah tanah inilah mereka dipupuk tatkala mereka
masih kecil dan di sana pula tempat-tinggal mereka sesudah
mereka besar. Kesana hati orang dan perasaannya terikat, dan
untuk itu pula dengan segala kekuatan dan hartanya ia
pertahankan. Dikorbankannya semua tenaga dan hidupnya. Sesudah
mati, di tempat itu harapannya akan dikuburkan. Ia mau kembali
kedalam tanah tempat ia dijadikan itu.
 
Naluri inilah yang lebih keras mendorong hati kaum Muhajirin
daripada motif-motif lain. Selalu terpikir oleh mereka
bagaimana seharusnya sikap mereka itu menghadapi Quraisy.
Tetapi yang sudah terang, sikap itu bukanlah sikap menyerah
atau sikap menghambakan diri. Sudah cukup sabar mereka selama
tigabelas tahun terus-menerus menanggung penderitaan. Agama
tidak membenarkan adanya sikap lemah, putus asa atau menyerah
bagi mereka yang sudah menanggung penderitaan dan sampai
hijrah karenanya.
 
Apabila sikap permusuhan itu memang dibenci dan tidak
dibenarkan, sebaliknya yang diperkuat dan dianjurkan adalah
sikap persaudaraan, tapi di samping itu yang juga diharuskan
ialah membela diri, membela kehormatan, membela kebebasan
beragama dan membela tanah-air. Untuk membela inilah Muhammad
mengadakan Ikrar 'Aqaba yang kedua dengan penduduk Yathrib.
Tetapi bagaimanakah kaum Muhajirin itu akan menunaikan
kewajibannya kepada Tuhan, kepada Rumah Suci, kepada tanah
air, Mekah yang mereka cintai itu? Kearah inilah politik
Muhammad dan kaum Muslimin itu ditujukan, sampai selesai ia
kelak menaklukkan Mekah, dan agama Allah serta seruan
kebenaranpun akan terjunjung tinggi.
 
Catatan kaki:
 
1 Yathrib nama kota Medinah. Dalam terjemahan ini dua
sebutan Yathrib dan Medinah sama-sama dipakai (A).

2 'Ala rib'atihim atau riba'atihim menurut kebiasaan
baik yang berlaku (N, LA) (A).

3 Yata'aqalun, 'saling memberi dan menerima diat' (N)
atau tebusan darah (A).

4 Suku atau batn ialah anak-kabilah, lebih kecil dari
kabilah (A).

5 Dalam at-Bidaya wan-Nihaya oleh ibn Kathir disebut
Syatana.

6 Sya'ir termasuk famili Graminea yang mungkin lebih
dekat kepada jenis jelai daripada gandum (A).

7 Sawiq semacam bubur dibuat dari gandum atau jelai
dicampur dengan kurma (A).

8 Tharid biasanya hidangan roti yang dibasahi dengan
kuah kaldu dan daging (A).

9 Yula'inu, sama maksudnya dengan Yabtahilu, atau
mubahala yang dalam terjemahan ini dipakai kata saling
berdoa. Nabi mengusulkan kepada pihak Kristen mengadakan
suatu mubahala, suatu pertemuan khidmat, dengan
masing-masing pihak yang mempertahankan pendiriannya
berdoa sungguh-sungguh kepada Ailah, agar Tuhan
menjatuhkan laknat kepada pihak yang berdusta.
"Barangsiapa membantah engkau tentang itu, sesudah
datang pengetahuan padamu, katakanlah: Marilah kita
kumpulkan anak-anak kami dan anak-anak kamu,
wanita-wanita kami dan wanita-wanita kamu, diri kami
sendiri dan diri kamu, kemudian kita berdoa
sungguh-sungguh kepada Allah. Kita mintakan agar laknat
Tuhan dijatuhkan kepada pihak yang dusta." (Qur'an, 3:
61). Mereka yang benar-benar murni dan benar-benar yakin
takkan ragu-ragu dalam hal ini. Tetapi pihak Kristen
disini ternyata mengundurkan diri. (A)