Abu Bakar As-Siddiq yang lembut hati (bagian 3)
Sejak itu
Abu Bakr sudah menyiapkan dua ekor unta sambil menunggu perkembangan
lebih lanjut bersama kawannya itu. Sementara sore itu ia di rumah
tiba-tiba datang Muhammad seperti biasa tiap sore. Ia memberitahukan
bahwa Allah telah mengizinkan ia hijrah ke Yasrib. Abu Bakr
menyampaikan keinginannya kepada Rasulullah sekiranya dapat menemaninya
dalam hijrahnya itu; dan permintaannya itu pun dikabulkan.
Khawatir Muhammad akan melarikan diri sesudah kembali ke rumahnya,
pemuda-pemuda Kuraisy segera mengepungnya. Muhammad membisikkan kepada
Ali bin Abi Talib supaya ia mengenakan mantel Hadramautnya yang hijau
dan berbaring di tempat tidurnya. Hal itu dilakukan oleh Ali. Lewat
tengah malam, dengan tidak setahu pemudapemuda Kuraisy ia keluar pergi
ke rumah Abu Bakr. Ternyata Abu Bakr memang sedang jaga menunggunya.
Kedua orang itu kemudian keluar dari celah pintu belakang dan bertolak
ke arah selatan menuju Gua Saur. Di dalam gua itulah mereka
bersembunyi. Pemuda-pemuda Kuraisy itu segera bergegas ke setiap
lembah dan gunung mencari Muhammad untuk dibunuh. Sampai di Gua
Saur salah seorang dari mereka naik ke atas gua itu kalau-kalau dapat
menemukan jejaknya. Saat itu Abu Bakr sudah mandi keringat ketika
terdengar suara mereka memanggil-manggil. Ia menahan nafas, tidak
bergerak dan hanya menyerahkan nasib kepada Allah. Tetapi Muhammad
masih tetap berzikir dan berdoa kepada Allah. Abu Bakr makin
merapatkan diri ke dekat kawannya itu, dan Muhammad berbisik di
telinganya:
"Jangan bersedih hati. Tuhan bersama kita."
Pemuda-pemuda
Kuraisy itu melihat ke sekeliling gua dan yang dilihatnya hanya
laba-laba yang sedang menganyam sarangnya di mulut gua itu. la kembali
ke tempat teman-temannya dan mereka bertanya kenapa ia tidak masuk.
"Ada laba-laba di tempat itu, yang memang sudah ada sejak sebelum
Muhammad lahir." Dengan perasaan dongkol pemuda-pemuda itu pergi
meninggalkan tempat tersebut. Setelah mereka menjauh Muhammad
berseru: "Alhamdulillah, Allahu Akbar!" Apa yang disaksikan Abu Bakr
itu sungguh makin menambah kekuatan imannya.
Apa penyebab ketakutan Abu Bakr ketlka dalam gua?
Adakah rasa takut pada Abu Bakr itu sampai ia bermandi keringat
dan merapatkan diri kepada Rasulullah karena ia sangat mendambakan
kehidupan dunia, takut nasibnya ditimpa bencana? Atau karena ia tidak
memikirkan dirinya lagi tapi yang dipikirkannya hanya Rasulullah dan
jika mungkin ia akan mengorbankan diri demi Rasulullah? Bersumber
dari Hasan bin Abil-Hasan al-Basri, Ibn Hisyam menuturkan: "Ketika
malam itu Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam dan Abu Bakr
memasuki gua, Abu Bakr radiallahu 'anhu masuk lebih dulu sebelum
Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam sambil meraba-raba gua itu untuk
mengetahui kalau-kalau di tempat itu ada binatang buas atau ular. Ia
mau melindungi Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam dengan
dirinya."
Begitu juga sikapnya ketika dalam keadaan begitu genting demikian terdengar suara pemuda-pemuda Kuraisy, ia berbisik di telinga Nabi: "Kalau saja mereka ada yang menjenguk ke bawah, pasti mereka melihat kita." Pikirannya bukan apa yang akan menimpa dirinya, tetapi yang dipikirkannya Rasulullah dan perkembangan agama, yang untuk itu ia berdakwah atas perintah Allah, kalau sampai pemuda-pemuda itu berhasil membunuhnya. Bahkan barangkali pada saat itu tiada lain yang dipikirkannya, seperti seorang ibu yang khawatir akan keselamatan anaknya. Ia gemetar ketakutan, ia gelisah. Tak lagi ia dapat berpikir. Bila ada bahaya mengancam, ia akan terjun melemparkan diri ke dalam bahaya itu, sebab ia ingin melindungi atau mati demi anaknya itu. Ataukah Abu Bakr memang lebih gelisah dari ibu itu, lebih menganggap enteng segala bahaya yang datang, karena imannya kepada Allah dan kepada Rasulullah memang sudah lebih kuat dari cintanya kepada kehidupan dunia, dari naluri seorang ibu dan dari segala yang dapat dirasakan oleh perasaan kita dan apa yang terlintas dalam pikiran kita?! Coba kita bayangkan, betapa iman itu menjelma di depannya, dalam diri Rasulullah, dan dengan itu segala makna yang kudus menjelma pula dalam bentuk kekudusan dan kerohaniannya yang agung dan cemerlang!
Saat ini saya membayangkan Abu Bakr sedang
duduk dan Rasulullah di sampingnya. Juga saya membayangkan bahaya
yang sedang mengancam kedua orang itu. Imajinasi saya tak dapat
membantu mengugkapkan segala yang terkandung dalam lukisan hidup yang
luar biasa ini, tak ada bandingannya dalam bentuk yang bagaimanapun.
Apa artinya pengorbanan raja-raja dan para pemimpin dibandingkan dengan pengorbanan Rasulullah
Sejarah menceritakan kepada kita kisah orang-orang yang telah
mengorbankan diri demi seorang pemimpin atau raja. Dan pada zaman
kita ini pun banyak pemimpin yang dikultuskan orang. Mereka lebih
dicintai daripada diri mereka sendiri. Tetapi keadaan Abu Bakr dalam
gua jauh berbeda. Para pakar psikologi perlu sekali membuat analisis
yang cermat tentang dia, dan yang benar-benar dapat melukiskan
keadaannya itu. Apa artinya keyakinan orang kepada seorang pemimpin dan
raja dibandingkan dengan keyakinan Abu Bakr kepada Rasulullah yang
telah menjadi pilihan Allah dan mewahyukannya dengan agama yang
benar!? Dan apa pula artinya pengorbanan orang untuk pemimpin-pemimpin
dan raja-raja itu dibandingkan dengan apa yang berkecamuk dalam
pikiran Abu Bakr saat itu, yang begitu khawatir terjadi bahaya
menimpa keselamatan Rasulullah. Lebih-lebih lagi jika tak sampai dapat
menolak bahaya itu. Inilah keagungan yang sungguh cemerlang, yang
rasanya sudah tak mungkin dapat dilukiskan lagi. Itulah sebabnya
penulis-penulis biografi tak ada yang menyinggung soal ini.
Setelah putus asa mereka mencari dua orang itu, keduanya keluar dari
tempat persembunyian dan meneruskan perjalanan. Dalam perjalanan
itu pun bahaya yang mereka hadapi tidak kurang pula dari bahaya yang
mengancam mereka selama di dalam gua.
Abu Bakr masih dapat
membawa sisa laba perdagangannya sebanyak lima ribu dirham. Setiba di
Medinah dan orang menyambut Rasulullah begitu meriah, Abu Bakr
memulai hidupnya di kota itu seperti halnya dengan kaum Muhajirin
yang lain, meskipun kedudukannya tetap di samping Rasulullah,
kedudukan sebagai khalil, sebagai asSiddlq dan sebagai menteri
penasehat.
Abu Bakr di Madinah
Abu Bakr
tinggal di Sunh di pinggiran kota Medinah, pada keluarga Kharijah bin
Zaid dari Banu al-Haris dari suku Khazraj. Ketika Nabi
mempersaudarakan orang-orang Muhajirin dan Ansar Abu Bakr
dipersaudarakan dengan Kharijah. Abu Bakr kemudian disusul oleh
keluarganya dan anaknya yang tinggal di Mekah. la mengurus keperluan
hidup mereka. Keluarganya mengerjakan pertanian — seperti juga
keluarga Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Talib — di tanah orang-orang
Ansar bersama-sama dengan pemiliknya. Bolehjadi Kharijah bin Zaid
ini salah seorang pemiliknya. Hubungan orang ini lambat laun makin
dekat dengan Abu Bakr. Abu Bakr kawin dengan putrinya — Habibah —
dan dari perkawinan ini kemudian lahir Umm Kulsum, yang ditinggalkan
wafat oleh Abu Bakr ketika ia sedang dalam kandungan Habibah.
Keluarga Abu Bakr tidak tinggal bersamanya di rumah Kharijah bin Zaid
di Sunh, tetapi Umm Ruman dan putrinya Aisyah serta keluarga Abu Bakr
yang lain tinggal di Medinah, di sebuah rumah berdekatan dengan rumah
Abu Ayyub al-Ansari, tempat Nabi tinggal. Ia mundarmandir ke tempat
mereka, tetapi lebih banyak di tinggal di Sunh, tempat istrinya yang
baru.
Terserang demam
Tak lama tinggal di
Medinah ia mendapat serangan demam, yang juga banyak menyerang penduduk
Mekah yang baru hijrah ke Medinah, disebabkan oleh perbedaan iklim
udara tempat kelahiran mereka dengan udara tempat tinggal yang
sekarang. Udara Mekah adalah udara Sahara, kering, sedang udara
Medinah lembab, karena cukup air dan pepohonan. Menurut sumber dari
Aisyah disebutkan bahwa demam yang menimpa ayahnya cukup berat,
sehingga ia mengigau. Setelah puas dengan tempat tinggal yang baru
ini, dan setelah bekerja keras sehingga keluarganya sudah tidak
memerlukan lagi bantuan Ansar, seluruh perhatiannya sekarang
dicurahkan untuk membantu Rasulullah dalam memperkuat Muslimin, tak
peduli betapa beratnya pekerjaan itu dan besarnya pengorbanan.
Kemarahan Abu Bakr
Orang yang begitu damai dan tenang ini tak pernah mengenal
marah, kecuali ketika melihat musuh-musuh dakwah yang terdiri dari
orang-orang Yahudi dan kaum Munafik itu mulai berolok-olok dan main
tipu muslihat. Rasulullah dan kaum Muslimin dengan pihak Yahudi sudah
membuat perjanjian, masing-masing menjamin kebebasan menjalankan
dakwah agamanya serta bebas melaksanakan upacara-upacara keagamaannya
masing-masing. Orang-orang Yahudi itu pada mulanya mengira bahwa
mereka mampu mengambil keuntungan dari kaum Muslimin yang datang dari
Mekah dalam menghadapi Aus dan Khazraj. Tetapi setelah ternyata tak
berhasil mereka memecah belah kaum Muhajirin dengan kaum Ansar,
mulailah mereka menjalankan tipu muslihat dan memperolok agama.
Beberapa orang Yahudi berkumpul mengerumuni salah seorang dari mereka
yang bernama Finhas. Dia adalah pendeta dan pemuka agama mereka.
Ketika Abu Bakr datang dan melihat mereka, ia berkata kepada Finhas
ini: "Finhas, takutlah engkau kepada Allah dan terimalah Islam.
Engkau tahu bukan bahwa Muhammad Rasulullah. Dia telah datang kepada
kita dengan sebenarnya sebagai utusan Allah. Kalian akan melihat itu
dalam Taurat dan Injil."
"Abu Bakr, bukan kita yang memerlukan Tuhan, tapi Dia yang memerlukan kita. Bukan kita yang meminta-minta kepada-Nya, tetapi Dia yang meminta-minta kepada kita. Kita tidak memerlukan-Nya, tapi Dialah yang memerlukan kita. Kalau Dia kaya, tentu tidak akan minta dipinjami harta kita, seperti yang didakwakan oleh pemimpinmu itu. Ia melarang kalian menjalankan riba, tapi kita akan diberi jasa. Kalau Ia kaya, tentu Ia tidak akan menjalankan ini."
Yang dimaksud oleh kata-kata Finhas itu firman Allah:
Siapakah yang hendak meminjamkan kepada Allah pinjaman yang
baik, yang akan Ia lipatgandakan dengan sebanyak-banyaknya." (Qur'an,
2. 245).
Setelah Abu Bakr melihat orang ini memperolok
firman Allah serta wahyu-Nya kepada Nabi, ia tak dapat menahan diri,
dipukulnya muka Finhas itu keras-keras seraya katanya:
"Demi
Allah, kalau tidak karena adanya perjanjian antara kami dengan kamu
sekalian, kupukul kepalamu. Engkaulah musuh Tuhan!"
Bukanlah
aneh juga Abu Bakr menjadi begitu keras, orang yang begitu tenang,
damai dan rendah hati itu. Ia menjadi sedemikian rupa padahal usianya
sudah melampaui lima puluh tahun!
Kemarahannya kepada Finhas ini
mengingatkan kita kepada kemarahan yang sama lebih sepuluh tahun yang
silam, yaitu ketika Persia mengalahkan Rumawi, Persia Majusi dan
Rumawi Ahli Kitab. Kaum Muslimin ketika itu merasa sedih karena diejek
kaum musyrik yang menduga bahwa pihak Rumawi kalah karena juga Ahli
Kitab seperti mereka. Ada seorang musyrik menyinggung soal ini di
depan Abu Bakr dengan begitu bersemangat bicaranya, sehingga Abu Bakr
naik pitam. Diajaknya orang itu bertaruh dengan sepuluh ekor unta
bahwa kelak Rumawi yang akan mengalahkan pihak Majusi sebelum habis
tahun itu. Hal ini menunjukkan bahwa Abu Bakr akan sangat marah jika
sudah mengenai akidah dan keimanannya yang begitu tulus kepada Allah
dan Rasul-Nya. Itulah sikapnya tatkala ia berusia empat puluh, dan
tetap itu juga setelah sekarang usianya lima puluh tahun sampai
kemudian ketika ia sudah menjadi Khalifah dan memegang pimpinan kaum
Muslimin.
Kekuasaan iman pada Abu Bakr
Keimanan yang tulus inilah yang menguasai Abu Bakr, menguasai segala
perasaannya, sepanjang hidupnya, sejak ia menjadi pengikut
Rasulullah. Orang akan dapat menganalisis segala peristiwa
kejiwaannya dan perbuatannya serta segala tingkah lakunya itu kalau
orang mau melihatnya dari segi moral. Sebaliknya, semua yang di luar
itu, tak ada pengaruhnya dan segala keinginan yang biasa mempengaruhi
hidup manusia, dan banyak juga kaum Muslimin ketika itu yang
terpengaruh, buat dia tak ada artinya. Yang berkuasa terhadap dirinya
— hati nuraninya, pikiran dan jiwanya — semua hanyalah demi Allah dan
Rasul-Nya. Semua itu adalah iman, iman yang sudah mencapai tingkat
tertinggi, tingkat siddiqin, yang sudah begitu baik tempatnya.
Ketika Rasulullah di Badr
Kemudian kita lihat apa yang terjadi dalam perang Badr. Pihak Mekah
sudah menyusun barisan, Nabi pun sudah pula mengatur kaum Muslimin
siap menghadapi perang. Seperti diusulkan oleh Sa'd bin Mu'az, ketika
itu pihak Muslimin membangun sebuah dangau di barisan belakang,
sehingga jika nanti kemenangan berada di pihak mereka, Rasulullah
dapat kembali ke Medinah. Abu Bakr dan Nabi tinggal dalam dangau itu
sambil mengawasi jalannya pertempuran. Dan bila pertempuran dimulai dan
Muhammad melihat jumlah pihak musuh yang begitu besar sedang anak
buahnya hanya sedikit, ia berpaling ke arah kiblat, menghadapkan diri
dengan seluruh hati sanubarinya kepada Allah. Ia mengimbau Tuhan akan
segala apa yang telah dijanjikan-Nya. Ia membisikkan permohonan dalam
hatinya agar Allah memberikan pertolongan, sambil katanya:
"Allahumma ya Allah! Inilah Kuraisy sekarang datang dengan segala kecongkakannya, berusaha hendak mendustakan Rasul-Mu. Ya Allah, pertolongan-Mu juga yang Kaujanjikan kepadaku. Ya Allah, jika pasukan ini sekarang binasa tidak lagi ada ibadah kepada-Mu."
Sementara ia masih hanyut dalam doa kepada Tuhan sambil merentangkan
tangan menghadap kiblat itu, mantelnya terjatuh. Dalam keadaan serupa
itu ia terangguk sejenak terbawa kantuk, dan ketika itu juga tampak
olehnya pertolongan Allah itu datang. Ia sadar kembali, kemudian ia
bangun dengan penuh rasa gembira. Ia keluar menemui sahabat-sahabatnya
sambil berkata kepada mereka:
"Demi Dia yang memegang hidup
Muhammad. Setiap seorang yang sekarang bertempur dengan tabah,
bertahan mati-matian, terus maju dan pantang mundur, lalu ia tewas,
maka Allah akan menempatkannya di dalam surga."
Abu Bakr di Badr
Demikianlah keadaan Rasulullah. Tidak yakin akan kemenangan anak
buahnya yang hanya sedikit itu dalam menghadapi lawan yang iauh lebih
banyak, dengan diam-diam jiwanya mengadakan hubungan dengan Allah
memohon pertolongan. Kemudian terbuka di hadapannya tabir hari yang
amat menentukan itu dalam sejarah Islam.
Abu Bakr, ia tetap di
samping Rasulullah. Dengan penuh iman ia percaya bahwa Allah pasti
akan menolong agama-Nya, dan dengan hati penuh kepercayaan akan
datangnya pertolongan itu, dengan penuh kekaguman akan Rasulullah dalam
imbauannya kepada Allah, dengan perasaan terharu kepada Rasulullah
karena kekhawatiran yang begitu besar menghadapi nasib yang akan
terjadi hari itu, ketika itulah Rasulullah berdoa, mengimbau,
bermohon dan meminta kepada Allah akan memenuhi janji-Nya. Itulah yang
diulangnya, diulang sekali lagi, hingga mantelnya terjatuh, Itulah
yang membuatnya mengimbau sambil ia mengembalikan mantel itu ke bahu
Nabi: "Rasulullah, dengan doamu Allah akan memenuhi apa yang telah
dijanjikan-Nya kepadamu."
Kebenaran dan kasih sayang menyatu dalam dirinya
Banyak orang yang sudah biasa dengan suatu kepercayaan sudah tak
ragu lagi, sampai-sampai ia jadi fanatik dan kaku dengan kepercayaannya
itu. Bahkan ada yang sudah tidak tahan lagi melihat muka orang yang
berbeda kepercayaan. Mereka menganggap bahwa iman yang sebenarnya harus
fanatik, keras, dan tegar. Sebaliknya Abu Bakr, dengan keimanannya yang
begitu agung dan begitu teguh, tak pernah ia goyah dan ragu, jauh
dari sikap kasar. Sikapnya lebih lunak, penuh pemaaf, penuh kasih bila
iman itu sudah mendapat kemenangan. Dengan begitu, dalam hatinya
terpadu dua prinsip kemanusiaan yang paling mendasari: mencintai
kebenaran, dan penuh kasih sayang. Demi kebenaran itu segalanya bukan
apa-apa baginya, terutama masalah hidup duniawi.» Apabila kebenaran
itu sudah dijunjung tinggi, maka lahir pula rasa kasih sayang, dan
ia akan berpegang teguh pada prinsip ini seperti pada yang pertama.
Terasa lemah ia menghadapi semua itu sehingga matanya basah oleh air
mata yang deras mengalir.
Sikapnya terhadap tawanan Badr
Setelah mendapat kemenangan di Badr, kaum Muslimin kembali ke
Medinah dengan membawa tawanan perang Kuraisy. Mereka ini masih ingin
hidup, ingin kembali ke Mekah, meskipun dengan tebusan yang mahal.
Tetapi mereka masih khawatir Muhammad akan bersikap keras kepada mereka
mengingat gangguan mereka terhadap sahabat-sahabatnya selama
beberapa tahun dahulu yang berada di tengah-tengah mereka. Mereka
berkata satu sama lain: "Sebaiknya kita mengutus orang kepada Abu
Bakr. Ia paling menyukai silaturahmi dengan Kuraisy, paling punya rasa
belas kasihan, dan kita tidak melihat Muhammad menyukai yang lain
lebih dari dia." Mereka lalu mengirim delegasi kepada Abu Bakr.
"Abu Bakr," kata mereka kemudian, "di antara kita ada yang masih
pernah orangtua, saudara, paman atau mamak kita serta saudara sepupu
kita. Orang yang jauh dari kita pun masih kerabat kita. Bicarakanlah
dengan sahabatmu itu supaya ia bermurah hati kepada kami atau
menerima tebusan kami."
Dalam hal ini Abu Bakr berjanji akan
berusaha. Tetapi mereka masih khawatir Umar bin Khattab akan mempersulit
urusan mereka ini. Lalu mereka juga bicara dengan Umar seperti
pcmbicaraannya dengan Abu Bakr. Tetapi Umar menatap muka mereka dengan
mata penuh curiga tanpa memberi jawaban. Kemudian Abu Bakr sendiri
yang bertindak sebagai perantara kepada Rasulullah mewakili orang-orang
Kuraisy musyrik itu. la mcngharapkan belas kasihannya dan sikap yang
lebih lunak terhadap mereka. la menolak alasan-alasan Umar yang mau
main keras terhadap mereka. Diingatkannya pertalian kerabat antara
mereka dengan Nabi. Apa yang dilakukannya itu sebenarnya karena
memang sudah bawaannya sebagai orang yang lembut hati, dan kasih
sayang baginya sama dengan keimanannya pada kebenaran dan keadilan.
Barangkali dengan mata hati nuraninya ia melihat peranan kasih sayang
itu juga yang akhirnya akan menang. Manusia akan menuruti kodrat yang
ada dalam dirinya dan dalam keyakinannya sclama ia melihat sifat
kasih sayang itu adalah peri kemanusiaan yang agung, jauh daii segala
sifat lcmah dan hawa nafsu. Yang menggerakkan hatinya hanyalah
kekuatan dan kemampuan. Atau, kekuasaan manusia terhadap dirinya
ialah kckuasaan yang dapat meredam bengisnya kekuatan, dapat
melunakkan kejamnya kekuasaan.
Arah hidupnya sesudah Badr
Sebenarnya Perang Badr itu merupakan permulaan hidup baru buat
kaum Muslimin, juga merupakan permulaan arah baru dalam hidup Abu
Bakr. Kaum Muslimin mulai mengatur siasat dalam menghadapi Kuraisy dan
kabilah-kabilah sekitarnya yang melawan mereka. Abu Bakr mulai
bekerja dengan Nabi dalam mengatur siasat itu berlipat ganda ketika
masih tinggal di Mckah dulu dalam melindungi kaum Muslimin. Pihak
Muslimin semua sudah tahu, bahwa Kuraisy tidak akan tinggal diam
sebelum mereka dapat membalas dendam kejadian di Badr itu. Juga mereka
mengetahui bahwa dakwah yang baru tumbuh ini perlu sekali mendapat
perlindungan dan perlu mempertahankan diri dari segala scrangan
terhadap mereka itu. Jadi harus ada perhitungan, hams ada pengaturan
siasat. Dengan posisinya di samping Rasulullah seperti yang sudah
kita lihat, Abu Bakr tak akan dapat bekerja tanpa adanya perhitungaji
dan pengaturan serupa itu, supaya jangan timbul kekacauan di dalam kota
Medinah atas hasutan pihak Yahudi dan golongan munafik, dan supaya
jangan ada serangan pihak luar ke Madinah.
Abu Bakr dan Umar; pembantu Rasulullah
Kemenangan Muslimin di Badr itu juga sebenarnya telah mengangkat
martabat mereka. Inilah yang telah menimbulkan kedengkian di pihak
lawan. Pada pihak Yahudi timbul rasa sakit hati yang tadinya
biasa-biasa saja. Dalam hati kabilah-kabilah di sekitar Medinah yang
tadinya merasa aman kini timbul rasa khawatir. Tidak bisa lain, untuk
mencegah apa yang mungkin timbul dari mereka itu, diperlukan suatu
siasat yang mantap, suatu perhitungan yang saksama. Musyawarah yang
terus-menerus antara Nabi dengan sahabat-sahabat telah diadakan. Abu
Bakr dan Umar oleh Nabi diambil sebagai pembantu dekat (wazir) guna
mengatur siasat baru, yang sekaligus merupakan batu penguji mengingat
adanya perbedaan watak pada kedua orang itu, meskipun mereka sama-sama
jujur dan ikhlas dalam bermusyawarah. Di samping dengan mereka ia
juga bermusyawarah dengan kaum Muslimin yang lain. Musyawarah ini
memberi pengaruh besar dalam arti persatuan dan pembagian tanggung
jawab demikian, sehingga masing-masing mereka merasa turut memberikan
saham.
Sebagai penangkal akibat dendam kesumat pihak Yahudi
itu kaum Muslimin sekarang mengepung Banu Qainuqa' dan mengeluarkan
mereka dari Medinah. Begitu juga akibat rasa kekhawatiran
kabilah-kabilah yang berada di sekeliling Medinah, mereka berkumpul
hendak mengadakan serangan ke dalam kota. Tetapi begitu mendengar
Muhammad keluar hendak menyongsong mereka, mereka sudah lari ketakutan.
Dalam perang Uhud
Berita-berita demikian itu tentu sampai juga ke Mekah, dan ini
tidak menutup pikiran Kuraisy hendak membalas dendam atas kekalahan
mereka di Badr itu. Dalam upaya mereka hendak menuntut balas itu mereka
akan berhadapan dengan pihak Muslimin di Uhud. Di sinilah terjadi
pertempuran hebat. Tetapi hari itu kaum Muslimin mengalami bencana
tatkala pasukan pemanah melanggar perintah Nabi. Mereka meninggalkan
posnya, pergi memperebutkan harta rampasan perang. Saat itu Khalid
bin Walid mengambil kesempatan, Kuraisy segera mengadakan serangan dan
kaum Muslimin mengalami kekacauan. Waktu itulah Nabi terkena lemparan
batu yang dilakukan oleh kaum musyrik. Lemparan itu mengenai pipi dan
wajahnya, sehingga Kuraisy berteriakteriak mengatakan Nabi sudah
meninggal. Kalau tidak karena pahlawanpahlawan Islam ketika itu
segera mengelilinginya, dengan mengorbankan diri dan nyawa mereka,
tentu Allah waktu itu sudah akan menentukan nasib lain terhadap
mereka.
Sejak itu Abu Bakr lebih sering lagi mendampingi Nabi, baik dalam peperangan maupun ketika di dalam kota di Medinah.
Orang masih ingat sejarah Muslimin — sampai keadaan jadi stabil
sesudah pembebasan Mekah dan masuknya Banu Saqif di Ta'if ke
dalam pangkuan Islam — penuh tantangan berupa peristiwa-peristiwa
perang, atau dalam usaha mencegah perang atau untuk mempertahankan diri
dari serangan musuh. Belum lagi peristiwa-peristiwa kecil lainnya
dalam bentuk ekspedisi-ekspedisi atau patroli. Waktu itu orang-orang
Yahudi — dipimpin oleh Huyai bin Akhtab — tak henti-hentinya
menghasut kaum Muslimin. Begitu juga Kuraisy, mereka berusaha
matimatian mau melemahkan dan menghancurkan kekuatan Islam. Terjadinya
perang Banu Nadir, Khandaq dan Banu Quraizah dan diselang seling
dengan bentrokan-bentrokan lain, semua itu akibat politik Yahudi dan
kedengkian Kuraisy.
Dalam semua peristiwa dan kegiatan itu Abu
Bakr lebih banyak mendampingi Nabi. Dialah yang paling kuat
kepercayaannya pada ajaran Nabi. Setelah Rasulullah merasa aman
melihat ketahanan Medinah, dan tiba waktunya untuk mengarahkan langkah
ke arah yang baru — semoga Allah membukakan jalannya untuk
menyempurnakan agama-Nya — maka peranan yang dipegang Abu Bakr itu
telah menambah keyakinan kaum Muslimin bahwa sesudah Rasulullah,
dialah orang yang punya tempat dalam hati mereka, orang yang sangat
mereka hargai.
Sikapnya di Hudaibiyah
Enam
tahun setelah hijrah kaum Muslimin ke Medinah Muhammad mengumumkan
kepada orang banyak untuk mengerjakan ibadah haji ke Mekah. Berita
perjalanan jemaah ini sampai juga kepada Kuraisy. Mereka bersumpah
tidak akan membiarkan Muhammad memasuki Mekah secara paksa. Maka
Muhammad dan para sahabat pun tinggal di Hudaibiyah, di pinggiran kota
Mekah. Ia berpegang teguh pada perdamaian dan ia menolak setiap usaha
yang akan menimbulkan bentrokan dengan Kuraisy. Diumumkannya bahwa
kedatangannya adalah akan menunaikan ibadah haji, bukan untuk
berperang. Kemudian dilakukan tukar-menukar delegasi dengan pihak
Kuraisy, yang berakhir dengan persetujuan, bahwa tahun ini ia harus
pulang dan boleh kembali lagi tahun depan.
Kaum Muslimin banyak
yang marah, termasuk Umar bin Khattab, karena harus mengalah dan
harus pulang. Mereka berpendapat, isi perjanjian ini merendahkan
martabat agama mereka. Tetapi Abu Bakr langsung percaya dan yakin akan
kebijaksanaan Rasulullah. Setelah kemudian turun Surah Fath (48) bahwa
persetujuan Hudaibiyah itu adalah suatu kemenangan yang nyata, dan
Abu Bakr dalam hal ini, seperti juga dalam peristiwa-peristiwa lain,
ialah as-Siddiq, yang tulus hati, yang segera percaya.
Kekuatan Muslimin dan mengalirnya para utusan
Integritas dakwah Islam makin hari makin kuat. Kedudukan
Muslimin di Medinah juga makin kuat. Salah satu manifestasi
kekuatan mereka, mereka telah mampu mengepung pihak Yahudi di Khaibar,
Fadak dan Taima', dan mereka menyerah pada kekuasaan Muslimin,
sebagai pendahuluan untuk kemudian mereka dikeluarkan dari tanah
Arab. Di samping itu, manifestasi lain kuatnya Muslimin waktu itu serta
tanda kukuhnya dakwah Islam ialah dengan dikirimnya surat-surat oleh
Muhammad kepada raja-raja dan para amir (penguasa) di Persia,
Bizantium, Mesir, Hira, Yaman dan negeri-negeri Arab di sekitarnya
atau yang termasuk amirat-nya..
Adapun gejala yang paling
menonjol tentang sempurna dan kuatnya dakwah itu ialah bebasnya Mekah
dan pengepungan Ta'if. Dengan itu cahaya agama yang baru ini sekarang
sudah bersinar ke seluruh Semenanjung, sampai ke perbatasan kedua
imperium besar yang memegang tampuk pimpinan dunia ketika itu: Rumawi
dan Persia. Dengan demikian Rasulullah dan kaum Muslimin sudah
merasa lega atas pertolongan Allah itu, meskipun tetap harus waspada
terhadap kemungkinan adanya serangan dari pihak-pihak yang ingin
memadamkan cahaya agama yang baru ini.
Bersinarnya cahaya Islam
Setelah orang-orang Arab melihat adanya kekuatan ini delegasi
mereka datang berturut-turut dari segenap Semenanjung, menyatakan
keimanannya pada agama baru ini. Bukankah pembawa dakwah ini pada
mulanya hanya seorang diri?! Sekarang ia sudah dapat mengalahkan
Yahudi, Nasrani, Majusi dan kaum musyrik. Bukankah hanya kebenaran
yang akan mendapat kemenangan? Adakah tanda yang lebih jelas bahwa
memang dakwahnya itulah yang benar, yang mutlak mendapat kemenangan
atas mereka semua itu? Ia tidak bermaksud menguasai mereka. Yang
dimintanya hanyalah beriman kepada Allah, dan berbuat segala yang
baik. Inilah logika yang amat manusiawi, diakui oleh umat manusia pada
setiap zaman dan mereka beriman di mana pun mereka berada. Ini juga
logika yang diakui oleh akal pikiran manusia. Kekuatan argumentasinya
yang tak dapat dikalahkan itu sudah dibuktikan oleh sejarah.
Abu Bakr memimpin jamaah haji
Allah telah mengizinkan kaum Muslimin melengkapi kewajiban
agamanya, dan ibadah haji itulah kelengkapannya. Oleh karena
itu dengan adanya delegasi yang berturut-turut itu tidak memungkinkan
Rasulullah meninggalkan Medinah pergi ke Baitullah. Maka dimintanya
Abu Bakr memimpin jamaah pergi menunaikan ibadah haji. la berangkat
bersama tiga ratus orang. Mereka melaksanakan ibadah itu,
melaksanakan tawaf dan sai. Dalam musim haji inilah Ali bin Abi Talib
mengumumkan — sumber lain menyebutkan Abu Bakr yang mengumumkan —
bahwa sesudah tahun itu tak boleh lagi kaum musyrik ikut berhaji.
Kemudian orang menunda empat bulan lagi supaya setiap golongan dapat
kembali ke tempat tinggal dan negeri masing-masing. Sejak hari itu,
sampai sekarang, dan sampai waktu yang dikehendaki Allah, tak akan
ada lagi orang musyrik pergi berhaji ke Baitullah, dan tidak akan
ada.
Haji Perpisahan dan keberangkatan Usamah
Tahun kesepuluh Hijri Rasulullah melaksanakan ibadah haji
perpisahan. Abu Bakr juga ikut serta. Rasulullah Sallallahu 'alaihi
wasallam berangkat bersama semua istrinya, yang juga diikuti oleh
seratus ribu orang Arab atau lebih. Sepulang dari melaksanakan ibadah
haji, Nabi tidak lama lagi tinggal di Medinah. Ketika itu
dikeluarkannya perintah supaya satu pasukan besar disiapkan berangkat
ke Syam, terdiri dari kaum Muhajirin yang mula-mula, termasuk Abu Bakr
dan Umar. Pasukan itu sudah bermarkas di Jurf (tidak jauh dari
Medinah) tatkala tersiar berita, bahwa Rasulullah jatuh sakit.
Perjalanan itu tidak diteruskan dan karena sakit Rasulullah bertambah
keras, orang makin cemas.
Abu Bakr memimpin salat
Karena sakit bertambah berat juga maka Nabi meminta Abu Bakr
memimpin sembahyang. Disebutkan bahwa Aisyah pernah mengatakan:
"Setelah sakit Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam semakin berat
Bilal datang mengajak bersembayang: 'Suruh Abu Bakr memimpin salat!'
Kataku: Rasulullah, Abu Bakr cepat terharu dan mudah menangis. Kalau
dia menggantikanmu suaranya tak akan terdengar. Bagaimana kalau
perintahkan kepada Umar saja! Katanya: 'Suruh Abu Bakr memimpin
sembahyang!' Lalu kataku kepada Hafsah: Beritahukanlah kepadanya bahwa
Abu Bakr orang yang cepat terharu dan kalau dia menggantikanmu
suaranya tak akan terdengar. Bagaimana kalau perintahkan kepada Umar
saja! Usul itu disampaikan oleh Hafsah. Tetapi kata Nabi lagi: Kamu
seperti perempuan-perempuan yang di sekeliling Yusuf. Suruhlah Abu
Bakr memimpin sembahyang. Kemudian kata Hafsah kepada Aisyah: Usahaku
tidak lebih baik dari yang kaulakukan."
Sekarang Abu Bakr
bertindak memimpin salat sesuai dengan perintah Nabi. Suatu hari,
karena Abu Bakr tidak ada di tempat ketika oleh Bilal dipanggil hendak
bersembahyang, maka Umar yang diminta mengimami salat. Suara Umar cukup
lantang, sehingga ketika mengucapkan takbir di mesjid terdengar oleh
Muhammad dari rumah Aisyah, maka katanya:
"Mana Abu Bakr? Allah dan kaum Muslimin tidak menghendaki yang demikian."
Dengan itu orang menduga, bahwa Nabi menghendaki Abu Bakr sebagai
penggantinya kelak, karena memimpin orang-orang salat merupakan tanda
pertama untuk menggantikan kedudukan Rasulullah.
Sementara masih
dalam sakitnya itu suatu hari Muhammad keluar ke tengah-tengah kaum
Muslimin di mesjid, dan antara lain ia berkata:
"Seorang hamba
oleh Allah disuruh memilih tinggal di dunia ini atau di sisi-Nya, maka
ia memilih berada di sisi Allah." Kemudian diam. Abu Bakr segera
mengerti, bahwa yang dimaksud oleh Nabi dirinya. Ia tak dapat menahan
air mata dan ia menangis, seraya katanya:
"Kami akan menebus Tuan
dengan jiwa kami dan anak-anak kami." Setelah itu Muhammad minta semua
pintu mesjid ditutup kecuali pintu yang ke tempat Abu Bakr. Kemudian
katanya sambil menunjuk kepada Abu Bakr: "Aku belum tahu ada orang yang
lebih bermurah hati dalam bersahabat dengan aku seperti dia. Kalau ada
dari hamba Allah yang akan kuambil sebagai khalil (teman) maka Abu
Bakr-lah khalil-ku. Tetapi persahabatan dan persaudaraan ini dalam iman,
sampai tiba saatnya Allah mempertemukan kita di sisi-Nya."
Pada hari ketika ajal Nabi tiba ia keluar waktu subuh ke mesjid sambil bertopang kepada Ali bin Abi Talib dan Fadl bin al-Abbas. Abu Bakr waktu itu sedang mengimami orang-orang bersembahyang. Ketika kaum Muslimin melihat kehadiran Nabi, mereka bergembira luar biasa. Tetapi Nabi memberi isyarat supaya mereka meneruskan salat. Abu Bakr merasa bahwa mereka berlaku demikian karena ada Rasulullah. Abu Bakr surut dari tempatnya. Tetapi Nabi memberi isyarat agar diteruskan. Lalu Rasulullah duduk di sebelah Abu Bakr, salat sambil duduk.
Lepas salat Nabi kembali ke rumah Aisyah. Tetapi tak lama kemudian demamnya kambuh lagi. Ia minta dibawakan sebuah bejana berisi air dingin. Diletakkannya tangannya ke dalam bejana itu dan dengan begini ia mengusap air ke wajahnya. Tak lama kemudian ia telah kembali kepada Zat Maha Tinggi, kembali ke sisi Allah.
Rasulullah telah meninggalkan dunia kita setelah Allah menyempurnakan agama ini bagi umat manusia, dan melengkapi kenikmatan hidup bagi mereka. Apa pulakah yang dilakukan orang-orang Arab itu kemudian? Ia tidak meninggalkan seorang pengganti, juga tidak membuat suatu sistem hukum negara yang terinci. Hendaklah mereka berusaha (berijtihad) sendiri. Setiap orang yang berijtihad akan mendapat bagian.In : Kisa Para Sahabat Rasulullah s.a.w
